Kamis, 29 Maret 2012

review buku "SENJATANYA ORANG ORANG LEMAH karya JAmes Scoot"


Pada abad ke 19 dan awal abad ke 20 terjadi pemberontakan petani yang ada di pulau jawa atau biasanya disebut dengan gerakan ratu adil . Gerakan ini dipelopori oleh para petani di jawa yang terhadap penguasa colonial yang membebani mereka . Hal itu tidak lain karena pemererintah hanya mengeksploitasi para petani dan buruh untukmelakukan perintah-perintah yang dikekendakinya . Hal ini yang menyulut kemarahan petani kemudian timbul gerakan-gerakan social yang ada , antara lain pencurian terhadpat orang-orang kaya yang dianggap sebagai kaki tangan para penguasa colonial . Kemduian juga melakukan pembangkangan pertanian yang dilakukan oleh para petani . Seperi mogok kerja dll . Hal itu juga terjadi di daerah bangian Malaysia yaitu Sedaka yang juga terjadi pemberontakan-pemberontakan petani namun lebih bersifat presuasif .
Kondisi social yang terkjdi di dearah Kedah  atau sekarang disebut Sedaka hampir sama dengan kehidupan petani-petani yang ada didaerah Asia tenggara lainnya yang bercorak agraris . Masyarakat sekitar yang sebgaian besar bermata pencaharian sebagai petani menggantungkan hidupnya pada sawah-sawah yang ada didaerah mereka . Mengenai masalah-maslah social seperti kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan terhadap orang yang mereka tidak sukai  seperti dalam masyarakat desa yang ada mereka juga suka menggunjing, memfitnah orang yang dianggap musuh mereka bersama , memang merupakan hal yang lumprah terjadi akibat perbedaan status social . Mereka memang cenderung tidak melakukan perlawanan secara radikal dan hanya biasanya perlawanan mereka bersifak simoblik . Pertarungan tersebut terjadi dalam konflik antar kelas yaitu si kaya dan si miskin . Perlawanan-perlawnan petani  ini merupakan pertarungan jangka panjang , antara petani dan pihak yang mencoba menyerobot pekerjaan, makanan, sewa dan bunga dari mereka. Kebanyakan bentuk pertarungan ini hampir saja menimbulkan tantangan kolektif langsung. Senjata-senjata yang mereka miliki seperti, memperlambat pekerjaan, bersifat pura-pura, pelarian diri, pura-pura memenuhi permohonan, pencurian, pura-pura tidak tahu, menjatuhkan nama baik orang, pembakaran, penyabotan dan sebagainya. Hal itu keranya efektif sebagai perlawanan terhadap penguasa yang dilakukakan oleh para petani yang tertindas . Hal yang dilakukan oleh masyarakat ketika menyindir orang kaya yang berkelakuan buruk adalah salah satunya Haji Broom yang merupakan represintatif dari orang kaya yang rakus yang juga telah melanggar ukuran-ukuran yang diterima tentang perilaku di desa itu itu.  Bahkan masyarakat desa itu mempunyai label-label atau istilah tersendiri untuk para petani kaya yang dianggap rakus itu. Haji Broom misalnya yang berarti haji sapu, yang berarti Haji yang suka menyapu bersih atau mengambil hak-hak milik orang miskin dengan jalan menjadi lintah darat. Kemarahan masyarakat setempat terhadap para Haji yang tidak mencerminkan status haji yang disandangnya, menguatkan mereka untuk menambahi label-label yang buruk di belakang status Haji mereka, antara lain Haji Broom, Haji Sangkut , Haji Merduk , Haji Karut , Haji Kedekut, Haji Bakhil dan juga menambahi nama yang buruk di belakang nama petani kaya seperti Kadir Ceti. . Semua nama-nama itu merupakan kritikan keras dari masyarakat terhadap para haji yang diharapkan seharusnya merupakan orang yang taat terhadap agama, karena salah satu tujuan utama dari ibadah haji adalah membersihkan diri dari dosa dan mempersiapkan diri untuk diadili Allah.
Pemerintah juga melakukan kekuasan untuk menghegemoni para petani , salah satunya adalah menerapkan tanaman yang harus ditanam oleh para petani . Hal in secara tidak langsung juga dilakukan oleh para petani . Namun dalam prakteknya mereka juga menyeleweng dari peraturan pemerintah seprti membiarkan tanaman yang ditanamnya dan tidak melakukan usaha semaksimal mungkin untuk menghasilkan panen yang baik . Sehingga hal tersebut akan menggagu hasil produksi yang telah ditetapkan oleh pemerintah . Hal ini ytidak dilakukan secar terang-terangan supaya pemerintah sadar akan peraturannya tersebut tidak dikendaki oleh para petani . Lain dari pada itu pemrintah juga mencaplok sebagian tanah-tanah petani dan dijadikan tanah milik Negara .  Hal yang menarik dari kehidupan petani di Sedaka ini adalah tidak pernah terjadi konfrontasi terbuka, bahkan upaya-upaya pemboikotan penanaman padi dilakukan dengan sangat hati-hati, mereka. Menyampaikan pesannya lewat orang lain, akan ketidakpuasan hati mereka dan mengancam jika suatu saat mesin pemanen rusak, maka jangan harap dapat mengandalkan buruh-buruh lama untuk membantunya mngatasi kesulitan. Para penanam padi itu tetap menjaga pilihan mereka. Mereka menghindari untuk secara terus menerus menolak menanam padi, karena itu akan memancing konflik terbuka.

Konflik-konflik terasebut sering terjadi karena adanya kecemburuan social terhadap para orang yang kaya yang menguasai mereka serta secara tidak langsung mereka harus mematuhi kehendak para pemilik modal tersebut . Buku ini mengulas secara terperinci mengenai perlawanan-perlawan yang dilakukan oleh petani atas  hegemoni oleh para penguasa . Mereka yang secara strata social lemah akan melakukan hal-hal yang dilakukan seprti diatas . Para penguasa  hanya mencari keuntungan dari petani namun tanpa melihat aspek-aspek yang terjadi akibat penerapan-penerapan yang dibuatnya. Sehingga pemerintah terkesan membiarkan kesejahteraan petani .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar