Rabu, 16 Mei 2012

HUBUNGAN ANTARA JEPANG DENGAN ASIA DAN EROPA


Hubungan jepang dengan asia dan eropa dimulai sejak abad 16-18 hubungan itu dimulai dengan perdagangan yang berlangsung antara jepang dengan cina,serta berlanjut dengan Negara negara barat atau Eropa.perdagangan ini dimulai dari utusan jepang yang pembawa upeti yang dikirim ke Sung,terhenti oleh kebnijakn Cina pada tahun 1549,kemudian oleh perang pada tahun 1592 namun tidak lama hubungan itu digantikan dengan hubungan yang lebih berimbang  yakni perdagangan.Yang berlandaskan perdagangan laut secara illegal.Pada masa ini orang juga menyebut sebagai ‘’abad kristen’’ karena pada masa ini orang eropa selain melakukan perdagangan juga melakukan penyebaran agama.Namun anggapan itu salah kiranya karena akhirnya agama Kristen ditolak.
Pada tahun tahun awal abad ke-16,utusan utusan yang dikirim Ashikaga ke Cina dalam pandangan jepang lebih  banyak berguna untuk tujuan berdagang. Sebagian besar pelayaran bertolak dari hataka di bawah perlindungan tuan tahan Quchi.Kapal - kapal yang ikut dalam pelayaran, biasanya terdiri dari tiga buah, berukuran kecil, dan lebih dari separuh penumpang adalah para pedagang yang membayar uang sewa ruang untuk barang.Barang barang yang mereka bawa untuk hadiah untuk istana Ming terdiri atas bahan mentah,dan hasil kerajinan tangan jepang seperti kipas dan tabir pembatas ruang,barang barang dari lacquer,pedang dan baju besi.Barang barang ini akan diserahkan kepada pemerintah Cina,tetapi apabila ditolak akan ditawarkan kepada pasar bebas.Sedangkan hadiah hadiah dari istana Ming yang dibawa pulang mencakup uang logam temabaga dalam jumlah besar-yang sangat diminati oleh orang Jepang,yang secara teratur dipesan karena penting untuk perdagangan dalam negeri.Hadiah hadiah dari Cina lainnya meliputi kain sutra halus dan benda benda seni.Para pedagang juga membawa pulang hasil jualan mereka dalam bentuk uang logam tembaga,tetapi  mereka juga membeli kain sutra jenis standar,yang laris di Jepang.Semua barang ini termasuk barabg impor yang bernilai tinggi,yang menghasilkan laba yang sangat besar.Tidak mengerankan apabila terdapat munculnya para perompak jepang yang disebut(wako) yang ingin merampas barang bawaan para pembawa upeti.Dalam abad ke-15,upaya keluarga Ashikaga dan istana Ming berhasil pada batas tertentu untuk mengendalikan perompak,tepai keputusan istana Ming untuk mengakiri kunjungan utusan resmi jepang setelah tahun 1549,dan memberlakukan pembatasan perdagangan seperti yang diberlakukan pada Negara Negara lain di luar sistem upeti,membuka peluang baru bagi perompak Setelah tahun 1560 upaya upaya istana Ming untuk membangun pertahana untuk menangkis perompak laut mulai membawa haisl,sedangkan dicabutnya larangan berdagang pada 1567 menyebabkan penduduk di pantai selatan enggan melakukan perdaganga dengan wako.

Keadaan ini mendukung upaya portugis untuk memperoleh tempat berpijak di Jepang.Setelah berhasil di Goa dan Malaka,Portugis mula mula mengirim armada kapalnay keperaian Cina pada tahun 1514,teapi hamper tigapulah tahun kemudian serombongan orang Portugis sampai di Tanegashima,sebuah pulau di sebulah teluk Kagoshima.Meraka dating menunpang sebuah jung dari Cina.Setelah itu kapal kapal Portugis sendiri mulai berdatangan dari Kyusu,tetapi baru setalah Cina mengizinkan Portugis mendirikan pemukiman di Macao (1557) dan seorang tanah feodal Jepang menepatkan Nagasaki dibawah yuridis Jesuit (1571) maka pola perdaganag yang teratur mulai muncul.Sejak itu, kedua pelabuhan ini berperan sebagai terminal perdagangan tetap antar Cina dan Jepang, menggunakan kapal kapal Portugis yang memiliki persenjataan lengkap sehingga mampu menangkal serangan.Portugis berlayar setiap tahun dari Cina ke Jepang.Perdagangan ini memberikan keuntungan yang besar bagi Portugis. Namun orang Portugis tidak dibiarkan lama lama menikmati laba mereka dengan aman karena terdapat saingan mereka yaitu Spanyol yang setelah menaklukan Filipina mulai berdagang di Jepang.Belanda juga menjadi saingan Portugis di seluruh perairan Asia.Belanda berhasil mendirikan kantor perdagangan di Hidaro pada tahun 1609. Ketiga pendatang ini menemukan bahwa terlalu tergantungan perdagangan jepang oleh Cina.Oleh karena itu mereka melakukan trik yang hapir sama dilakukan oleh Cina yaitu harus membawa barang barang yang diminati oleh orang Jepang. Daintaranya sutra kasar dan sutra halus,kayu sapon(sappan) dari Siam dan kulit.Sementara itu Spanyol, Belanda dan Inggris mereka memperoleh barang - barang Cina untuk Jepang melalui jaringan dagang yang dibangun pedagang pedagang Cina da Asia Tenggara.Orang Spanyol berdagang dengan masyarakat Cina di Manila,dan mengirimkan labanya ke negerinya dalam bentuk perak lantakan Jepang,hal yang sama yang dilakukan oleh Portugis.Sedangkan orang Belanda,di Batavia menggunakan pedagang Cian yang ada di Indonesia.Barang barang yang dibeli untuk dijual ke Jepang sama dengan barang barang yang dibawa oramg Portugis.seperti sutra,porselen,wangi wangain dsb.Bagian terbesar dari ekspor Jepang untuk membayar barang barang terdiri dari perak lantakan.

Namun pada perdagangan ini juga terlibat kaum perompak(wako)-setidak tidaknya perompak Jepang-sudah tidak punya lagi peluang untuk mencari makan dengan cara merompak karena langkah langkah yang diambil Hideyoshi dan Ming untuk membasmi mereka.Hideyoshi juga mengeluarkan peraturan untuk mengendalikan mereka,dengan mengaruskan mereka berlayar dengan menggunakan surat izin yang ditandai dnegan stempel merahnya (shuin) setiap kali perompak hendak berlayar.Tokugawa Ieyasu penerusnya juga menruskan praktek ini ketika ia masih berkuasa.Menurut perkiraan kapal kapal bercap merah milik perompak ini membawa kembali antara 50 dan 70 persen sutra dan barang barang dagangan ke Jepang,ini berati mereka pesaing berat bagi pedagang Eropa.Untuk membantu mereka dalam memperoleh barang kapal kapal bercap merah ini mendirikan masyarakat jepang di berbagai pelabuhan di luar negeri,yang terbesar adalah yang berada di Manila,yang berpenduduk sekitar 3.000 oarng pada tahun 1606.Pemukiman ini juga tidak bisa bertahan lama karena peraturan dari Iemitsu pada 1635.
Setelah tahun 1639 hanya orang Belnda yang bertahan dari antara para pedagang Eropa dalam perdagangan tidak langsung dengan Jepang dan Cina.Pedagang Inggris sudah mengundurkan diri pada tahun 1623.Sedangkan Bakufu melarang kapal Spayol masuk Jepang karena terjadi sebuah perselisihan pada tahun 1624.Pedagang Portugis menjadi korban dari larangan atas agama Kristen.Karena merek dicurigai membri bantuan kepada para pendeta Jesuit dan pemberontak Jepang,pedagang Portugis diperintahkan meninggalkan Nagasaki selama lamanya pada tahun 1639,dan ketika sebuah utusan dikirim dari Macao pada tahun 1640 yang meminta agar laranagn itu di cabut para pemimpin utusan itu dihukum mati karena tidak mematuhi perintah Shogun.Sedangkan orang belanda yang dianggap sebagai protestan itu meraka tidak termasuk orang Kristen menurut pengertian orang Jepang.Namun lama kelamaan mereka juga dicurigai oleh orang Jepang.itu terbukti pada tahun 1641 mereka dipindahkan dari Hirado kepulau Deshima di pelabuhan Nagasaki,yang semula ditetapkan sebagai pemukiman orang Portugis.Hanya di pulau itu saja orang Belanda boleh berdagang,sejak itu juga gerak gerik mereka selalu diawasi dengan ketat,jumlah jenis dan barang yang boleh mereka beli ditentukan oleh peraturan,dan juga jenis kapal dari jawa yang merapat disana.semua kegiatan dagang harus dilakuakan melalui sebuah kelompok dagang yang memiliki monopoli dibawah pengawasan ketat wakil Bafuku yang ada di situ.

Pembatasan pembatasan itu dipatuhi oleh orang Belanda pada awalnya karena masih memiliki keuntungan yang besar yang diperoleh dari perdagangan itu,tetapi keadaan ekonomi dari tahun ke tahun terus tidak menguntungkan.jepang mengenbangkan industri sutra sendiri,ini mengurangi ketergantungannya dengan Cina untuk semua barang kecuali yang bermutu tinggi.Produksi perak menurun karena tambang tambang perak yang mudah dijangkau sudah tergali semua,setelah tahun 1668 juga ada pembatsan perak yang dibawa keluar Jepang secara resmi.Akibat dari dua perubahan ini,sulit bagi orang Belanda memperoleh laba dan pada abad ke-18 laba sama sekali tidak lagi dapat diperoleh.

Korea dan Ryukyu

Hubungan dengan korea dan ryukyu pada tahun-tahun ini berjalan dalam lingkup kelembagaan yang berpusat di cina yang sudah lama dikenal, yakni dengan sistem upeti. Pada abad ke 15, ashikaga mengakuai shogun sebagai “Raja Jepang”, yang berarti merupakan vassal dari cina, dan membuka jalan untuk berhubungan dengan dinasti Yi, yang menguasai korea bersatu setelah tahun 1392. Keluarga So, tuan-tuan tanah di Tsushima,bertindak sebagai perantara diantara keduanya, dengan mengirimkan utusan ke Korea atas nama Jepang. Mereka juga berdagang barang-barang yang di ekspor jepang ke Ningpo, dan mengimpor kulit, ginseng, dan madu, kain katun, yang menjadi komoditi utama dibanding Sutra.
Pada tahun 1443, dengan harapan dapat mengurangi serangan perompak ke pantai korea, dinasty Yi mengadakan perjanjian yang mengizinkan 200 kapal jepang berkunjung ke Pusan setiap tahun. Upaya-upaya jepang untuk memperluas wilayah perdagangannya sama seperti upaya mereka di pantai cina yang menimbulkan perselisihan hebat dan menjadikan perdagangan terputus beberapa lama (1510-1512), tetapi perdamaian berhasil diwujudkan dan perdagangan berlangsung sepanjang abad-16.
Hideyoshi yang tidak setuju dengan pendapat dinasti So dan para pedagang Tsushima yang menganggap korea penting untuk jepang, merencanakan penyerangan ke Kyushu, dan akan menguasai kyushu sebagai pangkalan militer Korea. Dia menjalankan rencana ini setelah keluarga Shimazu dan Hojo telah dikalahkan, serangan ke luar negeri akan memberi Daimyo jepang sesuatu yang lain dari perang saudara yang membuat mereka sibuk. Hideyoshi juga merencanakan serangan ke cina melalui korea, dan ia akan menjadi Raja Jepang di singasana cina, kemenangan ini juga akan membuka jalan ke India.
Pada bulan april 1592, tiga vasal dari hideyoshi yang memiliki tanah-tanah luas di Kyushu, salah satunya adalah Kato Kiyomasa dari kumamoto, Daimyo Kristen, konishi Yukinaga dari Higo, dan Kuroda nagamasa dari nakatsu, bergabung untuk mengadakan persiapan pengiriman pasukan cadangan ke utara Kyushu, sebuah markas besar didirikan di Nagoya dan di Hizen, kapal-kapal besar diawaki oleh mantan Wako, berjumlah beberapa ribu orang dari jumlah prajurit yang lebih dari 150.000 orang.
Hampir sepertiga pasukan itu mendarat di Pusan pada awal Mei 1592. Pasukan yang dipimpin Kato dan Konishi menaklukkan Seoul pada 12 Juni, setelah itu pasukan jepang terbagi, konishi menaklukkan Pyongyang (23 Juli), kato maju ke utara menuju perbatasa sungai Yalu dengan manchuria, dan Kuroda bergerak ke arah timur laut. Unit lain menyebar menaklukkan korea tengah dan selatan.
Kekuatan korea ternyata diluar perkiraan jepang, di bawah laksamana Korea Yi Sun-sin, jepang hanya berhasil membuka jalan ke laut Pusan, tetapi gagal masuk ke laut kuning, tempat mereka seharusnya memberi dukungan kepada kato dan konishi. Di darat, kebijakan militer Jepang yang sangat keras menimbulkan perlawanan setempat, sehingga jepang kesulitan mengirimkan perbekalan kepada pasukannya di utara. Pada bulan Juli 1592, pasukan kecil cina yang berhasil menyeberangi sungai Yalu berhasil dipukul mundur, sebelum datang pasukan besar yang memaksa Konishi mundur ke Seoul pada Februari 1593. Sisa prajurit jepang yang masih di Pusan bertahan hidup dengan menggarap tanah selama 4 tahun.
      Pada bulan Desember 1596 utusan Cina kembali menunggu Hideyoshi, kali ini di Osaka, mereka sudah siap menobatkannya menjadi raja, saat itulah Hideyoshi menyadari jika ada tipu muslihat yang mengatasnamakan dirinya. Ia marah sejadi-jadinya, dan mengusir utusan Cina itu dari Jepang, dan melakukan persiapan kembali untuk berperang. Banyak pasukan dalam jumlah besar dikirim ke Korea. Konishi dan rekan-rekannya melancarkan serangan kembali pada Agustus 1597, dengan tujuan untuk menguasai empat provinsi di Korea yang dituntut oleh junjungan mereka. Namun serangan itu sangat sulit karena Korea lebih unggul di laut, ada sebuah pasukan besar Cina yang sudah menunggu di medan pertempuran. Jepang berhasil maju ke Seoul sebelum musim dingin tiba, namun di tahun baru pasukan Jepang mendapatserangan yang besar, Konishi melakukan pertahanan di pangkalannya Pusan, berita mengenai kematian Hideyoshi (18 September 1598) menyebabkan operasi militernya dihentikan. Pasukan Jepang yang semula berada di Pusan untuk mempertahankan kekuasaan mulai ditarik mundur ke Jepang.
Pada tahun 1606 terjadi pertemuan antara utusan Korea dengan Tokugawa Leyashu di Fushimi, pertemuan lebih intim lagi dilakukan di Edo dua tahun kemudian, tawanan perang dipertukarkan, perdagangan dipulihkan dengan syarat jumlah kapal dibatasi hanya 20 saja, banyak pemukiman Jepang yang dijaga Samurai didirikan di pinggir Pusan, perutusan Jepang dan Koreadimulai kembali.
Dibalik kedekatan ini ada banyak pemalsuan surat-surat oleh Keluarga So, utusan kepada Hedetada adalah hasil dari surat yang mereka palsukan,dengan tanda tangan Shogun sebagai “Raja Jepang”, sehingga menimbulkan kesan bahwa Jepang puas dengan sistem Upeti, penipuan ini berhasil dijalankan sampai tahun 1635. Pada tahun itu pemalsuan surat ini diketahui oleh Bakufu akibat perselisihan di Tsushima, orang-orang yang terlibat dalam pemalsuan ini dihukum, tetapi tidak berat. Sebuah keputusan Edo yang menganggap bahwa Shogun akan menggunakan gelar yang sama sekali baru, yakni Taikun (Tycoon), dalam urusannya dengan Korea, untuk menghindari kesan bahwa ia bawahan Cina, sebuah utusan Korea mengucapkan selamat kepada Jepang pada tahun 1636 yang menandai akhir sengketa ini.
Munculnya sikap Jepang yang mengakui bahwa Jepang menduduki posisi di Asia Timur yang sebanding dengan posisi Cina. Menulis mengenai dua dunia dengan “Dua Pusat”, para sejarawan menyiratkan ada kesamaan antara kedua pusat tersebut. Beberapa menyebut Jepang Chugoku (Chung-kuo), “Negeri Tengah”  sebutan yang Cina sebagai lambang dari Dunia Konfusius.
Pada abad ke-15,karena adanya pembatasan-pembatasan yang dikeluarkan Ming atas perdagangan dengan jung Cina,  Ryukyu menjadi entrepot bagi jalur-jalur pelayaran pelabuhan Cina dengan Asia Tenggara. Pulau-pulau itu memiliki hak untuk mengirimkan utusan pembawa upeti dan untuk berdagang dengan daratan Cina. Karena Satsuma juga berdagang dengan Ryukyu, Kyushu selatan karena itu memiliki hubungan “rahasia”, tidak saja dengan Cina, tetapi juga dengan jaringan pelayaran yang sampai menjangkau Indonesia.
Ketika Hideyoshi merencanakan merencanakan serangan ke Cina, ia meminta bantuan dari Ryukyu dan Korea. Ia tidak diacuhkan. “Raja” pulau-pulau itu juga tidak menjawab berbagai upaya Satsuma beberapa tahun kemudian untuk membujuk “Raja” mengakui kekuasaan Tokugawa Ieyasu. Akibatnya Jepang melancarkan serangan pada tahun 1609, atas perintah Tokugawa, tetapi dilaksanakan oleh 3000 prajurit dari Satsuma. Setelah itu Kagoshima menempatkan wakil-wakilnya di Ibukota Ryukyu, yang bertugas mengawasi pulau itu.
Dengan cara ini Jepang menikmati di Korea dan Ryukyu manfaat perdangan ini anggota-anggota sistem upeti Cina, tanpa harus menjadi anggota secara resmi. Perdangan langsung dengan Cina terus barjalan secara ilegal menggunakan jung-jung Cina yang berlayar ke Nagasaki, untuk memperoleh pengetahuan mengenai peradaban Cina yang berubah-ubah. Perdagangan dengan Korea dan Ryukyu tidak terlalu penting tetapi memungkinkan Shogun menghilangkan rasa malu karena statusnya sebagai vasal. Ia bahkan punya prestice di wilayahnya, karena itu juga penerima upeti.
Agama Kristen dan Pengucilan Diri
Perdagangan dengan Eropa tidak membawa implikasi politik semaca ini, selain itu meski membawa keping-keping informasi yang berguna mengenai cara membuat Senjata, ilmu hitung artileri, praktik Navigasi dan Kartografi, dan teknik-teknik menambang dan membuat benteng pertahanan, perdagangan Eropa meski ada sumbangannya namun dianggap kecil kepada seni lukis dan seni memasak Jepang. Para pendeta yang ikut berlayar mungkinmembawa dampak keagamaan yang besar, namun hadirnya agama Kristen ditolak pada abad-17 tanpa membuka satu budaya yang penting.
Penyebaran agam Kristen pertama kali tiba di Jepang terdiri dari tiga pendeta Jesuit, salah satunya Francis Xavier, yang tiba di Kagoshima dengan sebuah jung Cina pada tahun 1549, dan ia meninggalkan Jepang di tahun 1551, menuju Goa dengan maksud akan pergi ke Cina, karena itu tidak banyak waktu yang dimilikinya untuk menanamkan pengaruhnya di Jepang. Tetapi dengan mencari hubungan dengan istana raja Kyoto, dan kemudian medapatkan perlindungan dari keluarga Otomo, yang tengah muncul sebagai tuan tanah terkuat di Jepang Barat.  Mereka mendapatkan izin untuk tinggal di Kyoto pada tahun 1560, ini memungkinkan mereka memperoleh peluang untuk mencari hubungan dengan pusat kekuasaan nasional. Mereka berhasil mendapatkan pengaruh di kota itu dan di provinsi-provinsi sekitar. Namun Kyushu, tempat kapal-kapal dagang berlabuh menjadi pangkalan utama mereka.
Pada tahun 1563, dalam sebuah peristiwa yang kemudian ternyata menjadi sebuah peristiwa kunci sejarah agama Kristen di Jepang, mereka berhasil mengajak Omura Sumitada, Daimyo dari bagian Hizen di baratdaya pulau itu menjadi penganut agama Kristen, ia mengizinkan penyebaran agama itu di Nagasaki pada tahun 1571, dan mengeluarkan perintah mewajibkan penduduk di wilayahnya semua menjadi penganut agam Kristen pada tahun 1574, dan meletakkan Nagasaki yurisdiksi Jesuit pada tahun 1580. Otomo Sorin dan seorang daimyo yang lain dibaptis pada sekitar waktu ini, dan diikuti oleh penduduk yang ada dibawah kekuasaan mereka masing-masing, sehingga jumlah penganut Agama Kristen di Jepang naik menjadi 150.000, angka ini konon menjadi dua kali lipat  pada tahun 1600.
Keberhasilan yang dicapai kaum Jesuit disebabkan doktrin-doktrin kuat yang di bidang perdagangan, selain juga dari agama itu sendiri. Daimyo Kyushu yang berkepentingan menjaga perdagangan dengan Cina, melihat beberapa nakhoda Portugis sangat menghormati pendeta Jesuit, yang intinya kkaum Jesuit diberi hak istimewa di pelabuhan itu,seperti di Nagasaki yang merupakan pelabuhan tetap bagi perdagangan setelah perlakuan baik Omura pada kaum Jesuit. Selain itu para kaum Jesuit adalah orang-orang yang berpengetahuan, yang tidak terbatas pada pengetahuan agama tetapi juga berbagai bidang ilmu dan teknologi, termasuk ilmu tetang persenjataan.
Serangan ke Kyushu memberi Hideyoshi pengetahuan awal mengenai agama Kristen. Sebagai peguasa ia, ia menolak peran administrasi kaum Jesuitdi Nagasaki, sangat tidak suka dengan campur tangan mereka di bidang politik, dan merasa tersinggung oleh kabar-kabar mengenai sikap toleran kaum Jesuit terhadap agama lain. Semua ini dirasa cukup bagi Hedeyoshi untuk menerapkan pengendalian yang lebih ketat atas para penyebar kagamaan itu. Kesulitan dihadapi Nobunaga sebelumnya dapat meredam pengaruh sekte Ikko menjadi peringatan mengenai apa yang terjadi bila agama Kristen dibiarkan menyebar.
Segera setelah serangan ke Satsuma berakhir, Hideyoshi mengeluarkan keputusan memerintahkan pendeta Kristen meninggalkan Jepang. Isi dari keputusan itu diawali dengan kata-kata yang sudah berabad-abad digunakan, “Jepang adalah tanah dewa-dewa(kami)”. Dari kata-kata itu secara tidak langsung menuduh pendeta sebagai penghasut penyerangan atas biara dan kuil, dan penghasut “lapisan masyarakat bawah” untuk melanggar hukum. Sehari sebelumnya ia telah melarang perpindahan agama secara massal yang dilakukan atas tuan tanah feodal, karena dianggap dari sisi politik sebagai kegiatan subversif. Pada masa yang datang,pindah agama harus dilakukan secara pribadi atas izin dari wakil penguasa ( untuk samurai) atau dari kepalarumah tangga (untuk orang biasa).
Keputusan ini tidak dimaksudkan sebagai langkah awal melarang agama Kristen, karena gerakan anti Jesuit diambil sepuluh tahun berikutnya. Namun mulai tahun 1593, paderi Dominikan dan Augustinian dari Mania mulai tiba di Jepang. Yakin akan dilindungi dari raja Spanyol, mereka berkotbah secara terbuka, tanpa peduli dengan peerintah Hideyoshi, dan mengesampingkan cara-cara lebih halus yang digunakan paderi Jesuit untuk menyebarkan agama, yakni melalui para penguasa. Merasa disepelekan, Hideyoshi memberi peringatan tajam kepada orang asing itu mengenai keinginannya, pada bulan Februari 1597, dua puluh enam penganut Kristen, termasuk tiga Jesuit dan enam Franciscan disalib di Nagasaki. Peristiwa ini merupakan awal dari pembantaian agama Kristen secara besar-besaran dalam masa kekasaan Tokugawa.
Tokugawa Ieasyu khawatir jika ia terlalu keras memerangi agama Kristen, perdagangan luar negeri akan terancam, tetapi ia juga meragukan kesetiaan mereka, karena diakhir tahun 1614 mereka juga membantu mempertahankan benteng Osaka. Karena itu setelah jatuhnya benteng itu Tokugawa melarang agama mereka dan memerintahkan pengusiran penyebar agama Kristen yang tetap tinggal di Jepang tanpa mengindahkan perintah Hideyoshi, semua rakyat Jepang waktu itu harus mengikuti sekte-sekte dari agama Buddha.
Hidedata dan Iemitsu, shogun kedua dan ketiga Tokugawa, mengambil langkah yang lebih keras lagi setelah Ieasyu meninggal padatahun 1616, dan setelah dua puluh tahun setelah itu, ribuan orang Kristen dan banyak pendeta asing dijatuhi hukuman mati, biasanya disalib atau dipaksa meninggalkan agama melalui penyiksaan. Akan tetapi masih banyak orang-orang Kristen yang bersembunyi dibalik agama Buddha yang mereka jadikan selubung di Jepang pada abad ke-19.
Tidakan terhadap agama Kristen lebih mudah, kerena setelah tahun 1600 agama itu sudah tidak dibutuhkan dalam perdagangan luar negeri.   Krena banyaknya persaingan dari Eropa maupun negara Jepang sendiri, Portugis kehilangan monopoli barang impor dari Cina. Tidak hanya orang-orang Portugis tetapi juga orang Spanyol, Belanda dan Inggris juga turut mengambil bagian dalam impor Cina. Demikian juga dengan pelayaran dengan kapal shuin-sen Jepang sendiri. Jung-jung Cina di Nagasaki, dan jung-jung Jepang di Tsushima dan Pusan merupakan sumber baru persediaan barang. Orang-orang Portugis dan Spanyol yang memiliki hubungan dengan agama Kristen yang di perbolehkan berdagang. Rupanya dengan pertimbangan ini, Hidedata dan Iemitsu merasa bebas untuk mengambil sikap lebih ketat mengendalikan perdagangan luar negeri dan agama Kristen.
Pada tahun 1616, Hidedata melarang perdagangan selain di Nagasaki dan Hirado, membatalkan izin yang lebih longgar yang diberikan kepada orang Inggris sebelumnya. Pada tahun 1636 Iemitsu menetapkan bahwa orang Cina hanya boleh datang ke Nagasaki, dan melarang orang Jepang tinggal diluar negeri  dengan ancaman hukuman mati bagi yang melanggar. Ia dengan demikian mengakhiri perdagangan dengan kapal shui-sen. Hanya orang Cina, Portugis, dan Belanda yang boleh menjalankan kegiatan perdagangan luar negeri bagi Jepang.
Terjadi pemberontakan Petani besar-besaran pecah di semenanjung Shimabara, tidak jauh dari Nagasaki di awal tahun 1638. Banyak sekali orang Kristen yang ambil alih dalam pemberontakan itu, yang tampaknya terdorong akibat rasa jenuh yang telah dipendam puluhan tahundan hidup dalam pengejaran pemerintah. Orang Portugis yang mempunyai lebih banyak musuh dari pada teman di Jepang karena persaingan dalam dagang, dituduh membantu pemberontak secara langsung dengan senjata, dan secara tidak langsung menyelundupkan pendeta ke Jepang, dan pada tahun 1639 ini dijadikan alasan untuk memutuskan hubungan dagang dengan Macao. Orang Belanda memberi bantuan kepada Bakufu untuk memadamkan pemberontakan itu selamat dari krisis, tetapi mereka dipindahkan dari Hirado ke pulau Deshima di pelabuhan Nagasaki, dikarenakan memudahkan pengawasan.
Pemukiman orang-orang Belanda di Deshima terjadi lebih dari 200 tahun lamanya, dampak mereka bagi perekonomian Jepang tidak besar, tetapi ada dampak lain yang lebih penting setelah tahun 1700, yakni pengetahuan luar negeri yang luas bagi Jepang, sehingga dapat disimpulkan selama masa kekuasaan Tokugawa, Jepang merupakan negeri yang tertutup “sakoku”, tetapi kesimpulan ini tidak menjadi patokan utama, karena dalam kenyataannya masih ada hubungan dengan Korea dan Ryukyu, yang membuka pintu perdagangan ke Cina.
Kadang-kadang ada upaya dari orang Eropa untuk kembali membuka perdagangan, akan tetapi tidak mendapat sambutan sama sekali, langsung ditolak karena dianggap melanggar “ Hukum Adat”, juga ditolak dengan kekerasan. Jepang melihat dunia barat, terutama Eropa melalui tabir permusuhan dan penuh kecurigaan, ketika Jepang harus berhadapan pada abad ke-19 yang dilandaskan pada kemajuan Industri, menjadi acuan bagi Jepang untuk dan rakyat Jepang untuk memberi jawaban atas tantangan dari dunia luar selama beberapa tahun yang sangat menentukan.

Hubungan Jepang dengan Asia dan Eropa dimulai sejak abad 16-18 hubungan itu dimulai dengan perdagangan yang berlangsung antara jepang dengan cina,serta berlanjut dengan Negara Barat atau Eropa. Dimulai dengan hubungan Jepang dengan China sekitar abad 16 . Utusan - utusan yang dikirim Ashikaga ke Cina dalam pandangan jepang lebih  banyak berguna untuk tujuan berdagang.
Hubungan perdagangan China dan Jepang merupakan perdagangan yang illegal. Perdagangan antara dua Negara ini dihubungkan melalui perantara kapal – kapal Portugis. Hal ini menjadi keuntungan dari Portugis, namun pesaing – pesaing Portugis mulai bermunculan. Belanda dan Spanyol memulai aktivitas perdagangannya di Jepang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar