Rabu, 16 Mei 2012

KERAJAAN ACEH PADA MASA SULTAN ISKANDAR MUDA


                              Pemerintahan kesultanan Aceh dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda adalah pada tahun 1607-1636. Yang sebelumnya ia dipenjara oleh sultan Ali Ri’ayat Syah karena ia tidak setuju terhadap pemerintahannya. Iskandar muda melihat bahwa sultan Ali tidak Cakap dalam menangani masalah perampokan dan bahaya kemiskinan yang di derita oleh rakyat Aceh. Hal itulah yang dilirik oleh Portugis yang melihat bahwa pemerintahan Aceh sedang lemah, dan berusaha menyiapkan armadanya untuk menyerang Aceh. Melihat kondisi tersebut Sultan Iskandar Muda mengirimkan surat kepada Sultan Ali agar membebaskannya, agar ia bisa membantu menyerang Portugis permintaanya itu dikabulkan sehingga Ia dibebaskan. Yang kemudian pada tanggal 4 april 1607 ia berhasil mengusir Portugis dari Aceh.  Setelah peristiwa tersebut Ia berhasil menduduki kerajaan dan menjdi Sultan yang menggantikan Ali Ri’ayat Syah. Pendudukan kerajaan tersebut didukung oleh orang-orang besar. Salah satu keunggulan dari pemerintahan Sultan Iskandar muda adalah keberaniannya untuk melawan para penjajah yang ingin menguasai perdagangan di Nusantara. Hal inilah yang mempengaruhi kebijakan-kebijakan sultan untuk mengatur perdagangan.
                              Sejak Iskandar Muda naik tahta perubahan-perubahan besar yang terencana berlaku dengan cepat. Terutama kemajuan ekonominya, Ia menyimpulkan bahwa produk-produk hasil bumi Nusantara merupakan bahan yang menjadi rebutan oleh orang-orang Eropa. Bahan komoditi ekspor yang bernilai tinggi diantaranya adalah emas dan lada yang pada saat itu banyak terdapat dikepulauan Sumatra.   Selain itu pada masa pemerintahannya Aceh memiliki kekuaatan militer yang sangat kuat maka tidak heran  Sultan berhasil menaklukan wilayah-wilayah seprti Natal, Pasaman, Tiku, Pariaman. Dengan ini wliayah kekuasaan Aceh akan semakin luas serta dapat menambah tersedianya hasil alam yang laku dijual dipasaran. Wilayah-wilayah tersebut umumnya di berikan kepada orang-orang yang dipercayai Sultan untuk mengurus wilayah tersebut.  Belanda sendiri pun belum mau memusaatkan perhatiannya kepada Aceh setelah Aceh berhasil memukul mundur Portugis. Belanda berfikir bahwa Aceh merupakan kerajaan yang kuat. Selain itu pertikaian yang berlangsung antara Aceh dengan Johor merupakan keuntungan tersendiri bagi Belanda maupun Portugis. Belanda juga ingin membantu Johor untuk melawan Aceh dan dujadikan sebagai sekutu. Setelah berpikiran bahwa perseteruan itu dapat membendung pergerakan Portugis dan belanda dapat menguasai Malaka.
                           Saat Aceh mengetahui bahwa Johor bersekutu dengan Belanda, Maka Aceh berniat untuk melakukan penyerangan terhadap Johor. Pada tahun 1612 Aceh berhasil mengalahkan Johor,pada saat itu Sultan Alauddin dari Johor berhasil melarikan diri. Sebaliknnya Raja Bungsu ditangkap tertangkap juga Raja Siak,ipar  Alauddin. Banyak perwira dan orang-orang bangsawan tertangkap dan dibawa ke Aceh sebagai tawanan.  Terdapat orang-orang belanda juga yang bertugas di pos dagang di Johor.  Perkembangan selanjutnya adalah sultan membebaskan Raja bungsu yang dianggap tida berpihak pada Portugis dan ia juga ,mengikuti perintah Aceh. Sultan juga menikahkannya dengan adhiknya supaya terjalin lebih erat. Semenjak itu Johor menjad daerah kekuasaan Aceh.  Pada tahun  1615 sultan memerintahkan untuk menyerang Malaka, namun pada saat itu portugis sudah siap sehingga serangan Aceh dapat dihentikan.
                              Serangan terbesar Aceh ke Malaka terjadi pada tahun 1629. Pasukan Aceh yang saat itu berkekuaatan 236 kapal denagn 20.000 prajurit. Pertemperan melawan Portugis dimalaka itu sangat berlangsung lama  yang menimbulkan banyak korban,pasukan Aceh dapat mengepung Portugis di Malaka hingga berbulan-bulan. Namun penyerangan di Aceh mengalami kekalahan akibat lemah pengawasan  dari daerah luar (laut) sehingga muncul banyak bala bantuan dari pihak Portugis diantaranya dari Pahang dan juga dari Goa. bahkan kapal besar Aceh pun berhasil dikuasai dan pada saat itu Aceh mengalami kekalahan yang hebat dan menderita banyak korban. Pada saat itulah Aceh megalami guncangan hebat,karena kalah atas peperangan melawan Portugis.
                              Selatah kekalahan tersebut pada 1636 Sultan Iskandar Muda mangkat dari jabatannya dan dingantikan oleh menantunya yaitu Iskandar Tsani yang tidak lain adalah menantunya. Sumber dari barat menyebutkan bahwa lima belas hari sebelum mangkatnya, sultan menghukum putranya sendiri. Putra tersebut dituduh berkelakuan jahat dan tak dapat dikendalikan. Ada yang mengatakan hukuman mati tersebut dijalankan karena putra sultan telah melakukan perzinaan dengan seorang istri penduduk yang kemudian dengan diperlakukannya hukum islam maka putra tersebut dibunuh. Pada masa pemeritah Sultan Iskandar Tsani inilah Aceh mengalami perkembangan dalam ilmu penegtahuan keagamaan.
                             Pada dasarnya pemerintahan yang dipimpin Sultan iskandar muda  mengandung program perluasaan wilayah sebagai berikut :pertama, menguasai seluruh negeri dan pelabuhan  disekitar Selat Malaka. Kedua, mengalahkan Johor supaya tidak tidak dapat lagi ditunggangi oleh Belnda maupun Portugis. Ketiga, mengalahkan Porutgis dan menaklukan Malaka.keempat, mengalahkan negeri-negeri disebelah timur Malaya,sejauh merugikan perdagangan Aceh dan mencapai kemengan dari musuh seperti Pahang dan patani.  Kelima, menaikkan harga jual hasil bumi untuk ekspor dengan jalan memusatkan pelabuhan samudera di Aceh atau mengadakan pengawasan yang ketat sedemikian rupa sehingga kepentingan Raja tidak dirugikan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar