Senin, 15 Juli 2013

Monumen dibentuk, dipuja, dan dicaci



Pada hari Jumat, 28 Juni 2013 jurusan Ilmu Sejarah Unair mengadakan bedah buku dengan tema menarik yakni membahas mengenai simbolisasi monumen bagi masyarakat. Buku karya dosen Ilmu Sejarah Johny A. Khusayri ini berjudul “ Climates of Maening: Monuments of Coen, Deandles and van Heutsz”. Tiga gubernur jendral yang pernah memerintah pada masa Hindia-Belanda  memiliki andil besar dalam politik kolonial pada waktu itu, khususnya berperan besar dalam perekonomian negeri induk Belanda. Patung ketiganya pernah didirikan di Indonesia dan di negeri Belanda di gedung NHM (Nederlandche Handel-Maatschappij) suatu perusahaan besar di Belanda.
J.P. Coen sebagai gubernur Jendral telah menetapkan Batavia (Jakarta) sebagai pusat adminitrasi yang hingga kini diteruskan oleh Indonesia. Sedang H.W. Deandels berperan dalam mengubah admintrasi birokrasi pemerintahan sebelumnya dan meninggalkan karya besar bagi kita yakni membangun jalur Utara jawa (Anyer-Panarukan) yang dikenal sebagai Jalan raya Post. Meski Deandles dianggap sebagai penghianat karena mewakili Prancis jasanya yang besar menjadikan patungnya diabadikan digedung NHM.  Van Huestz berjasa dalam membuka jalur pelayaran serta menaklukan Aceh yang merupakan musuh terkuat dalam penaklukan kolonial di Indonesia.
Suatu monumen dalam perkembangnnya kemudian menimbulkan berbagai polemik dari sudut pandang zaman yang berbeda. Hal ini dapat dilihat pada ketiga monumet tersebut yang kemduian dihancurkan atau dihilangkan pada masa pendudukan Jepang dan setelah kemerdekaan. Hal ini menandai bahwa ada suatu kompromi dalam masyarakat dalam memandang patung tersebut. Patung yang dulu megah berdiri pada masa kolonial kemudian diturunkan setelah kolonial Belanda tidak berkuasa lagi. Monumen  bila melihat kondisi ini dapat dikatakan sebagai proses pembetukan memori kolektif baru. Ingatan masyarakat dalam setiap pembentukan sebuah monumet sengaja dibentuk untuk mempengaruhi suatu paradigma baru. Termasuk dalam pengahuncuran ketiga tokoh kolonial ini adalah dekontruksi masyrakat yang telah merdeka.
Yang menarik buku yang dibedah ini adalah padangan masyarakat Belanda mengenai ketiga tokoh diatas. Sebagian masyarakat yang ada membenci ketiga orang tersebut karena membuat malu kampung halaman mereka. Ya, gelombang protes banyak terjadi pada masyakat yang mempunyai tempat tinggal sama dengan para tokoh tersebut. Seperti Coen yang tinggal di Hoorn kota kecil di Belanda, sebagain penduduk dalam setiap peringatan  mengenai tokoh tersebut melempari patung-patung tersebut dengan benda-benda yang mempunyai simbol keburukan.
Monumen dapat dijadikan perlambang suatu penanda adanya sebuah peristiwa besar dalam sejarah. Pendiriannya memang sengaja diciptakan untuk membentuk suatu ingatan dalam masyarakat. Akan tetapi sering dilupakan bahwa sebuah monumen memiliki pemaknaan yang bergeser dalam suatu masyarakat  yang mewakili setiap jaman yang berbeda. Perubahan yang terus menerus terjadi membuat studi mengenai simbol sebuah monumen menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar